bahaya membandingkan progres hidup dengan algoritma sosial media
Pernahkah kita terbangun jam dua pagi, berniat hanya mengecek ponsel sebentar, tapi malah terjebak melihat pencapaian orang lain? Tiba-tiba kita merasa hidup kita jalan di tempat. Teman sebaya sudah beli rumah, liburan ke Eropa, atau sedang flexing portofolio saham. Sementara kita? Masih memikirkan besok mau makan siang apa dan tagihan mana yang harus dibayar duluan. Rasa tertinggal ini begitu nyata dan menyesakkan dada. Tapi, mari kita berhenti sejenak dan berpikir kritis. Apakah kita benar-benar tertinggal dalam hidup, atau kita sebenarnya sedang diakali oleh barisan kode komputer?
Mari kita mundur sedikit ke zaman nenek moyang kita untuk memahami akar kecemasan ini. Selama ratusan ribu tahun, otak manusia berevolusi untuk hidup dalam kelompok kecil yang komunal. Angkanya berkisar di 150 orang, yang dalam antropologi dan biologi evolusioner dikenal sebagai Dunbar’s number. Dulu, kita hanya membandingkan diri dengan tetangga di desa. Kalau kita cukup pandai bercocok tanam atau berburu, kita sudah merasa aman dan sukses. Tapi hari ini, kita melompat dari desa kecil itu ke arena gladiator global dalam hitungan detik. Kita tidak lagi membandingkan diri dengan tetangga sebelah rumah. Kita membandingkan progres hidup kita dengan kurasi kehidupan paling spektakuler dari miliaran manusia di bumi. Perangkat keras di kepala kita, yakni otak purba kita, sama sekali tidak didesain untuk memproses kompetisi brutal sebesar ini. Terlebih lagi, kompetisi ini sebenarnya adalah sebuah ilusi optik.
Di sinilah letak manipulasi terbesarnya. Saat kita menggulir layar, kita tidak sedang melihat realitas yang utuh. Kita sedang menatap hasil kerja spesifik dari sebuah algoritma. Dalam psikologi, ada sebuah konsep bernama social comparison theory yang dirumuskan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Teorinya sederhana: manusia secara natural selalu mencari tolak ukur dari orang lain untuk menilai kesuksesan dirinya sendiri. Kabar buruknya, algoritma media sosial tahu persis celah kelemahan psikologis ini. Mesin-mesin ini bekerja mirip mesin slot di kasino. Mereka menyajikan highlight reel, momen-momen puncak kehidupan orang lain yang sudah difilter, tepat saat kita sedang merasa rentan, bosan, atau lelah. Algoritma tidak punya empati pada kewarasan kita. Mereka hanya peduli pada satu metrik: screen time. Lalu, pernahkah kita menyadari, apa yang sebenarnya terjadi di dalam struktur otak kita saat ilusi kesempurnaan ini terus-menerus disuapkan ke mata kita setiap hari?
Jawabannya tersembunyi pada neurobiologi kita, dan ini adalah fakta sains yang cukup mengerikan. Setiap kali kita melihat pencapaian tak masuk akal di layar dan merasa gagal, otak kita meresponsnya sebagai ancaman fisik. Otak memproduksi hormon stres dalam jumlah besar, yaitu kortisol. Di saat yang bersamaan, sistem penghargaan di otak kita menjadi kacau balau karena mengalami dopamine depletion. Kita kehabisan cadangan dopamin karena terus mencari validasi semu yang tak kunjung datang. Bagian otak yang mengatur rasa takut dan cemas, yaitu amigdala, mulai menyala terang layaknya alarm kebakaran. Kita merasa terancam bukan karena sedang dikejar harimau, tapi karena merasa gagal secara sosial. Inilah realitas kerasnya: kita sama sekali tidak sedang kalah dalam lomba kehidupan. Kita hanya dipaksa berlari di atas treadmill emosional yang tingkat kemiringannya diatur oleh perusahaan teknologi raksasa. Mereka sengaja merancang sistem agar kita selalu merasa "kurang". Sebab secara logika ekonomi, manusia yang merasa dirinya kurang akan terus mencari pelarian, terus menggulir layar, dan terus mengonsumsi iklan.
Menyadari kebohongan sistemik ini adalah langkah pertama untuk meretas kembali kebebasan mental kita. Teman-teman, progres hidup itu sifatnya organik, berantakan, maju mundur, dan sangat lambat. Ia tidak akan pernah bisa diukur atau diringkas dalam video estetik berdurasi lima belas detik. Tidak ada satu pun hukum biologi atau fisika kuantum yang mengharuskan kita sukses secara finansial di usia dua puluh lima, atau punya segalanya di usia tiga puluh. Mulai sekarang, mari kita bersikap lebih rasional sekaligus lebih lembut pada diri sendiri. Saat jari kita mulai tanpa sadar menggulir layar dan rasa cemas itu mulai merayap naik, tarik napas dalam-dalam. Berhentilah sejenak. Ingatkan diri kita bahwa kita sedang membandingkan proses berdarah-darah di belakang panggung kita, dengan pertunjukan teater orang lain yang sudah melewati proses penyuntingan tingkat tinggi. Kehidupan nyata selalu terjadi di luar kotak bercahaya itu. Dan di dunia nyata, teman-teman sedang melangkah maju, bertumbuh dengan kecepatan yang sangat pas untuk garis waktu teman-teman sendiri.